Tuesday, September 29, 2020

Menguak Misteri Kapal Zabag, Diduga Tertua di Asia Tenggara



Cuaca panas mencapai 31 derajat celcius menemani arkeolog dan petugas ekskavasi Perahu Kuno, yang kini lebih dikenal sebagai Kapal Zabag.


Arkeolog Ali Akbar, selaku pemimpin rombongan yang ekskavasi Kapal Zabag di Desa Lambur I, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjab Timur, Jambi, diminta Bupati Tanjab Timur, Romi Hariyanto membantu pemerintah setempat menguak misteri situs-situs kuno Sabak. Diawali dengan ekskavasi Kapal Zabag.


Beserta tim ahli lainnya, Ali melakukan penelitian di situs Kapal Zabag. Observasi awal dimulai sejak April 2018. Dan 7 Agustus 2019, ekskavasi mulai dilakukan. Ali Akbar melibatkan mahasiswa Universitas Jambi (Unja) dan masyarakat setempat untuk melakukan ekskavasi.


“Konsepnya adalah bagaimana semua terlibat. Terutama masyarakat di dekat situs. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang didapat, tetapi masyarakat setempat juga mendapat dampak positif lainnya,” kata Ali Akbar, Minggu (25/8/2019).


Ali Akbar memulai penggalian 7 Agustus 2019. Hingga kini proses ekskavasi sudah mencapai hampir 35 persen. Sebagian bentuk fisik kapal kuno sudah terlihat. Papan-papan kapal, pasak kayu, tali ijuk, gading dan gerabah tanah ditemukan di lokasi situs. Banyak hal menarik yang ditemukan oleh Ali Akbar. Hal itu yang membuatnya terlihat sangat semangat melakukan penelitian.


“Di situs ini (Kapal Zabag) banyak hal menarik. Ada hal-hal yang belum ditemukan di Nusantara dan Asia Tenggara sejauh pengetahuan saya,” kata Ali, memulai pembicaraan.


Dia semakin penasaran dengan situs Kapal Zabag. Seberapa besar ukuran dan seberapa tua umurnya. Menurut dia, sejak tahun 1997 situs ini sudah dinyatakan sebagai peninggalan arkeologi yang penting. Karena kondisinya cukup rapuh, maka situs ditutup kembali. Menurut Ali, hasil sementara ekskavasi di sisi utara ditemukan ada tujuh papan. Menariknya papan-papan itu disambung dengan pasak kayu dan diikat dengen ijuk atau tali berwarna hitam. Bentuk yang sama juga ditemukan di sebelahnya.


“Teknik ini (Pasak kayu dan tali ijuk) dikenal sebagai teknik Asia Tenggara. Bangsa-bangsa Asia Tenggara dan Nusantara sudah membuat kapal dengan teknik ini di abad ke 3. Salah satu contoh temuan di Palembang, Rembang dan Cirebon. Ada juga temuan kapal kuno di Ponti, Malaysia sudah menggunakan teknik ini. Begitu juga di Filipina abad 13-14 Masehi,” kata Ali Akbar.


Dia menceritakan, temuan kapal karam di dasar laut Cirebon diperkirakan abad ke 10 menggunakan teknik yang sama. Sama juga seperti di Rembang kapal abad ke 8 menggunakan teknik yang sama. Namun untuk Kapal Zabag, Abe—sapaan akrab Ali Akbar—belum bisa memastikan usianya.


“Kita belum tahu usianya berapa, tetapi sampel kayunya sudah kita bawa ke Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Kira-kira (Kapal Zabag) rentan waktunya diperkirakan abad ke 3 sampai 14 Masehi,” jelas Abe.


Soal ukuran, Abe memperkirakan lebarnya mencapai 5,5 meter. Dilihat dari ukurannya tidak masuk kategori perahu, tetapi kapal. Bahkan kapal besar. Pendapat ini pun diperkuat oleh Prof. Chiara Nazarro, Arkeolog Maritim dari Italia. Dia menduga Kapal Zabag ini adalah kapal besar.


Kata dia dilihat dari kayu dan ketebalan papan, Kapal Zabag berukuran besar. Lebih besar dari Kapal Pinisi. Chiara mengungkap teknologi kapalnya hampir sama seperti Pinisi. Chiara mengaku sangat tertarik dengan situs Kapal Zabag ini. “Saya sangat tertarik untuk menelitinya lebih dalam,” kata Chiara.


Saking tertariknya Chiara datang sendiri ke Lambur, Tanjab Timur tanpa diundang oleh Pemkab Tanjab Timur. Chiara saat ini sedang melakukan penelitian Kapal Pinisi bersama Ali Akbar. Mendapat kabar tentang Kapal Zabag dari Ali Akbar, dia langsung mengunjungi Lambur sekaligus berwisata.


Profesor Arkeologi dari Universitas Naple L’Orientale ini membandingkan dengan kapal-kapal tradisional kuno hasil penelitiannya di Mesir dan Afrika. “Ini kapal besar. Unik dan ada hal yang sangar menarik,” katanya.


Menurut Abe, bentuk fisik yang nampak saat ini diperkirakan adalah geladak kapal, haluan dan buritan. Kata dia dia, di sekitar lokasi sebelah timur ada lagi seperti ujung perahu. Jaraknya sekitar 24 meter. “Tetapi terlalu besar untuk ukuran perahu jaman dulu. Ada kemungkinan bukan satu perahu yang sama. Ada lebih dari satu,” katanya.


Hingga kini, tunas kapal belum ditemukan. Hanya perkiraan dak kapal. Namun tidak ditemukan kulitnya (kulit dak). “Justru yang ditemukan kayu besar melintang. Bentuknya beda semua dengan teknologi perkapalan yang kita kenal. Biasanya di dekat kapat ditemukan macam-macam benda. Ini kosong. Kita menemukan pecahan-pecahan tembikar yang cukup tua, pecahan keramik,” jelasnya.


Posisi kapal ini menurut Abe bukan karam, tetapi sedang parkir dan diperbaiki. “Kalau kapal karam biasanya bawa muatan banyak. Gading-gadingnya ditemukan jauh, sementara tunas belum ditemukan. Papannya besar-besar dan tebal-tebal semua ketika dirangkai bisa menjadi kapal yang besar sekali. Papan-papan tebal ini yang jarang kita temukan dalam situs-situs lain. Di sekitar lokasi juga ditemukan lima papan terpisah, tetapi tersambung cukup baik,” kata Abe.


Abe menduga, lokasi situs adalah galangan kapal tertua di Asia Tenggara. Bukti-bukti sementara adalah posisi kapal yang terparkir. Ada kayu bulat yang berada di bawah geladak. Beberapa bagian juga terpisah, seperti posisi gadingnya juga terpisah. “Untuk sementara ini (Situs Kapal Zabag) adalah tempat pembuatan atau perbaikan kapal. Sejauh pengetahuan saya, di Nusantara belum pernah ditemukan galangan kapal kuno. Hanya baru di Sabak ini,” sebutnya.


Dia menduga, kapal-kapal tua yang ditemukan di Malaysia, Pilipina, Palembang, Rembang dan Cirebon diproduksi di Sabak. “Ini sifatnya masih sementara. Nanti pasti ada perkembangan-perkembangan lain,” katanya lagi.


Menurut Abe, Sabak nama kunonya adalah Zabag. Dan Zabag itu sudah dikenal oleh pedagang-pedagang Arab, Persia dan Cina sejak abad ke 7. “Kapal Zabag yang ada di situs ini hilir mudik sampai ke Cina, Arab dan seterusnya. Temuan di Cirebon juga sama, disambung dengan pasak kayu dan diikat dengan ijuk tanpa logam dan mampu berlayar mondar-mandir dan membawa banyak muatan. Kapal ini mempunyai daya jelajah yang tinggi. Kapal yang digerakkan dengan layar, bukan dayung,” kata Abe.


Tidak jauh dari Situs Kapal Zabag, ada situs Siti Hawa. Di situs ini banyak ditemukan keramik tetapi periodenya lebih muda. Selain keramik juga ada bata-bata kuno yang tidak ditemukan di sekitar Kapal Zabag. Lalu ditemukan kayu bulian sebagai penanda kehidupan, sisa dayung, tungku dari tanah liat yang bisa dibawa-bawa.


“Kita sedang berada di situs (Kapal Zabag) yang dikelilingi situs-situs lain saling terkait. Dan itu yang mungkin membuat bangsa-bangsa zaman dulu datang ke Sabak,” kata Abe.


Dia melanjutkan, tim juga sudah melakukan pemetaan di dasar sungai dan melalui udara. Dan ternyata di sekitar Situs Kapal Zabag ada alur sungai kuno. Kapal Zabag ini posisinya di darat, tetapi ada sungai melintas tidak jauh dari kapal. Ada mendernya dan tembus sampai ke laut dan ada sambungannya ke Sungai Batanghari.


Kata Abe, kondisi saat ini jarak dari Situs Kapal Zabag ke laut sekitar 20 Km. Sungai kuno ini ukurannya cukup besar sehingga bisa dilalui oleh kapal yang besar. “Jarak sekitar 100 meter di sini ditemukan kayu-kayu bulian yang dulu digunakan sebagai dermaga. Di situs Siti Hawa juga ada. Lalu di Kota Harapan ada juga (Kapal kuno) jaraknya lima kilometer dari sini,” tambahnya.

Tuesday, September 22, 2020

Peradaban China yang Hilang


Di tengah-tengah sebuah desa yang dahulunya tenang, Sanxingdui, di provinsi Sichuan di China, sebuah penemuan yang luar biasa terjadi yang segera menarik perhatian internasional dan sejak itu sejarah peradaban China ditulis ulang.

Dua lubang ritual pengorbanan raksasa yang digali disana mengandung ribuan artefak emas, perunggu, batu giok, gading dan tembikar yang sangat luar biasa dan tidak seperti artefak lain yang pernah ditemukan di China sebelumnya, sehingga para arkeolog menyadari bahwa mereka baru saja membuka pintu ke sebuah budaya kuno yang bertanggal kembali antara 3.000 dan 2800 tahun yang lalu.

Pada musim semi tahun 1929, seorang petani menggali sumur ketika ia menemukan setumpuk besar peninggalan batu giok. Ini adalah petunjuk pertama yang akhirnya mengarah pada penemuan kerajaan kuno misterius. Generasi arkeolog Cina mencari di sekitar daerah tersebut tanpa keberhasilan sampai tahun 1986, ketika para pekerja secara tak sengaja menemukan lubang-lubang yang berisi ribuan artefak yang telah rusak, dibakar, dan kemudian dengan hati-hati dimakamkan.

Penemuan artefak-artefak aneh ini menarik perhatian dunia. Benda-benda yang ditemukan di lubang-lubang pengorbanan tersebut adalah termasuk patung-hewan dan topeng dengan telinga naga, mulut terbuka dan menyeringai; kepala mirip manusia dengan topeng kertas emas; hewan hias termasuk naga, ular, dan burung; tongkat raksasa, sebuah altar pengorbanan, pohon perunggu setinggi 4 meter; kapak, tablet, cincin, pisau, dan ratusan benda-benda unik lainnya. Di antara semua itu juga terdapat artefak perunggu terbesar di dunia dan terawetkan secara baik yaitu sosok manusia yang berdiri tegak, setinggi 2,62 meter.


Namun, sejauh ini, temuan yang paling mencolok adalah puluhan topeng-topeng perunggu besar dan patung-patung kepala yang berfitur manusia dengan mata berbentuk almond, hidung lurus, wajah persegi, dan telinga besar, fitur yang sama sekali tidak mencerminkan orang-orang Asia, bahkan lebih mirip alien.

Artefak-artefak tersebut bertanggal kembali ke abad 12-11 SM. Mereka telah diciptakan dengan menggunakan teknologi pengecoran perunggu yang sangat canggih, yang dibuat dengan menambahkan kombinasi tembaga dan timah, menciptakan zat kuat yang membuat benda jauh lebih besar dan lebih berat, seperti patung seukuran manusia hidup dan patung pohon setinggi 4 meteran.


Beberapa topeng berukuran besar -- salah satunya berukuran luar biasa dimana lebarnya hingga 1,32 meter dengan tinggi 0,72 meter, itu adalah topeng perunggu terbesar yang pernah ditemukan. Tiga topeng terbesar memiliki fitur yang paling supranatural dari semua artefak Sanxingdui, dengan telinga seperti hewan, dengan mata yang menonjol keluar, atau batang hiasan tambahan.

Para peneliti benar-benar terkejut menemukan gaya artistik yang benar-benar tidak dikenal dalam sejarah seni Cina, yang sejarah awalnya berdasarkan sejarah dan artefak dari peradaban Sungai Kuning.


Penemuan spektakuler di Sanxingdui pada tahun 1986 merubah Sichuan menjadi titik fokus dalam studi Cina kuno. Artefak kuno yang ditemukan di dua lubang di sanxingdui bertanggal ke masa dinasti Shang, pada akhir milenium kedua SM, ketika masyarakat beradab primer berkembang di lembah Sungai Kuning, di utara China, ribuan mil dari Sichuan. Artefak sanxingdui sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan artefak-artefak yang dibuat dan ditemukan di tempat lain, dan tidak ada prasasti di lokasi Sanxingdui untuk menjelaskan budaya yang membuat artefak tersebut, yang tampaknya khas peradaban Zaman Perunggu, tetapi sebelumnya tidak diketahui. Penemuan ini memberikan kontribusi terhadap perubahan mendasar dari pemahaman tradisional dari pusat tunggal peradaban di utara China untuk pengakuan keberadaan beberapa tradisi daerah, dan Sichuan jelas salah satu yang paling berbeda.


Budaya yang menghasilkan artefak tersebut sekarang dikenal sebagai Budaya Sanxingdui, dan para arkeolog mengidentifikasinya dengan kerajaan kuno Shu, menghubungkan artefak yang ditemukan di lokasi untuk raja legendaris awal. Referensi sejarah mengenai kerajaan Shu yang berdiri pada periode awal Cina sangat sedikit (hanya disebutkan Shiji dan Shujing sebagai sekutu Zhou yang mengalahkan Shang), tetapi akun raja-raja legendaris Shu dapat ditemukan di cerita-cerita rakyat setempat.

Menurut Chronicles of Huayang disusun pada masa Dinasti Jin (265-420 M), kerajaan Shu didirikan oleh Cancong. Cancong digambarkan memiliki mata yang menonjol, sebuah fitur yang ditemukan pada artefak dari Sanxingdui. Penguasa lain yang disebutkan dalam Chronicles of Huayang termasuk Boguan, Yufu, dan Duyu. Banyak artefak berbentuk ikan dan burung, dan ini telah diusulkan untuk menjadi totem dari Boguan dan Yufu (nama Yufu sebenarnya berarti dandang ikan).



Sanxingdui diperkirakan adalah sebuah kota metropolis saat itu, yang meliputi sekitar tiga kilometer persegi. Sanxingdui telah sangat maju dalam pertanian, termasuk kemampuan memproduksi Anggur, teknologi keramik dan pembuatan alat-alat untuk kurban dan pertambangan. Menurut temuan arkeologi, pemukiman di Sanxingdui ditinggalkan tiba-tiba sekitar 1.000 SM, Untuk alasan yang masih belum diketahui. Ya, Budaya Sanxingdui ini tiba-tiba berakhir secara misterius.

Lubang-lubang pengorbanan diyakini adalah situs orang-orang Shu kuno untuk mempersembahkan korban ke Langit, Bumi, gunung, sungai, dan dewa-dewa alam lainnya. Figur-figur seperti manusia, topeng perunggu dengan mata menonjol dan dan berwajah seperti hewan, mungkin adalah dewa-dewa yang disembah oleh orang-orang Shu.

"Dilihat dari berbagai figur manusia perunggu dan benda-benda penguburan, Kerajaan Kuno Sanxingdui telah menyatukan dan memerintah masarakat melalui agama primordial. Mereka menyembah alam, totem dan nenek moyang mereka. kerajaan Shu kuno mungkin sering mengadakan kegiatan kurban besar untuk menarik suku-suku yang berbeda keyakinan agama datang dari jauh untuk beribadah, "kata Ao Tianzhao dari Museum Sanxingdui, yang telah mempelajari budaya Sanxingdui selama setengah abad. Ia percaya bahwa sejumlah besar artefacts perunggu di Sanxingdui menunjukkan bahwa situs ini digunakan untuk menjadi kiblat bagi para peziarah.

Sejak penemuannya, artefak-artefak dari sanxingdui tersebut telah menerima sejumlah besar perhatian dan penghargaan internasional. Mereka telah dipamerkan di museum-museum ternama dunia seperti The British Museum, Museum Istana Nasional di Taipei, National Gallery of Art (Washington), Guggenheim Museum (New York), Museum Seni Asia (San Francisco), Galeri Seni New South Wales (Sydney ) dan Museum Olimpiade Lausanne (Swiss). Beberapa artefak pilihan saat ini sedang dipamerkan di Museum Bowers di Santa Ana, California, dengan tema:  'Peradaban China yang Hilang: Misteri Sanxingdui, yang berlangsung dari 19 Oktober 2014 hingga 15 Maret 2015.

Penemuan Sanxingdui mengejutkan dunia, tapi sejarah artefak-artefak tersebut masih merupakan misteri. Hanya benda-benda yang ditemukan dari dua lubang tersebut yang mencerminkan peradaban kuno dan brilian dari Shu - tidak ada artefak lain seperti itu yang pernah ditemukan sejak itu. Tidak ada catatan sejarah, dan tidak ada teks-teks kuno yang berbicara tentang mereka. Sehingga masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab seperti apa tujuan benda-benda itu dibuat, dari mana budaya itu berasal, dan ke mana mereka pergi setelah mereka mengubur harta mereka yang paling berharga. Peradaban Sanxingdui adalah halaman yang unik dalam sejarah panjang Cina dan untuk saat ini masih merupakan misteri.


Beberapa ahli sejarah mencoba menjelaskan hilangnya budaya Sanxingdui tersebut. Beberapa mengatakan bahwa hilangnya peradaban ini karena perang dan banjir, tetapi pendapat ini tidak terlalu meyakinkan. Baru-baru ini ada hipotesis yang menarik mengenai penyebab hilangnya budaya Sanxingdui seperti yang AMJG kutip dari Livescience dibawah ini:

Sekitar 14 tahun yang lalu, arkeolog menemukan sisa-sisa kota kuno lain yang disebut Jinsha dekat Chengdu. Situs Jinsha, meskipun tidak ada kerajinan perunggu Sanxingdui yang mengesankan disana, namun memiliki mahkota emas yang diukir dengan motif seperti ikan, panah dan burung yang sama dengan kerajinan emas yang ditemukan di Sanxingdui. Hal ini menyebabkan beberapa arkeolog percaya bahwa orang-orang dari Sanxingdui mungkin telah pindah ke Jinsha.

Petunjuk geologi dan sejarah

Niannian Fan, seorang peneliti ilmu sungai di Universitas Tsinghua di Chengdu dan rekan-rekannya menduga bahwa mungkin sebuah gempa bumi menyebabkan tanah longsor yang membendung sungai dan menyebabkan alur sungai teralihkan ke Jinsha. Bencana seperti itu dapat mengurangi pasokan air Sanxingdui, dan memicu penduduknya untuk berpindah.


Lembah di mana Sanxingdui duduk memiliki floodplain besar, dengan 7 kilometer dinding tebing yang tinggi yang sepertinya tidaklah mungkin telah dipotong oleh sungai kecil seperti yang sekarang mengalir melaluinya, kata Fan.

Dan beberapa catatan sejarah mendukung hipotesis mereka. Pada tahun 1099 SM, penulis kuno mencatat sebuah gempa di ibukota dinasti Zhou, di provinsi Shaanxi. Meskipun tempat itu kira-kira terletak sejauh 400 kilometer dari situs bersejarah Sanxingdui, budaya Sanxingdui tidak memiliki catatan tertulis pada saat itu, sehingga mungkin episentrum gempa benar-benar dekat dengan Sanxingdui - tapi hanya tidak tercatat ada. Bukti geologis juga menunjukkan bahwa gempa bumi area tersebut antara 3.330 dan 2.200 tahun yang lalu, yang menguatkan dugaan Fan.

Pada waktu yang sama, sedimen geologis memberikan petunjuk terjadinya banjir besar. Dokumen dari masa Dinasti Han, "The Chronicles of the Kings of Shu" mencatat peristiwa banjir kuno yang mengalir dari gunung -- di titik di mana aliran sungai berubah arah. Sekitar 800 tahun kemudian, warga Jinsha membangun dinding untuk mencegah banjir.


Sebuah sungai Teralihkan?

Jadi dari dokukumen dan bukti geologis diatas disimpulkan bahwa gempa dahsyat memicu longsor yang mengubur sungai, mengubah alirannya, dan mengurangi aliran air menuju Sanxingdui.

Tapi, di mana aliran sungai yang beralih itu? Para arkeolog menemukan petunjuk di area pegunungan yang tinggi, tepatnya di Jurang Yanmen yang dalam dan lebar, di ketinggian 12.460 di atas permukaan air laut.

Jurang tersebut diukir oleh gletser sekitar 12.000 tahun yang lalu. Sungai di zaman modern memotong melaluinya. Namun, tanda-tanda erosi glasial itu -- cekungan berbentuk mangkuk yang dikenal sebagai cirques -- secara misterius menghilang. Tim berpendapat, gempa memicu longsoran yang kemudian menyapu beberapa cirques sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Pada titik ini, hipotesis tersebut masih sangat spekulatif. Data geologi tambahan diperlukan untuk menopangnya.

Meski dari sisi geologi ada titik terang, namun hipotesis diatas tetap memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan mengenai peradaban yang hilang ini,  yaitu "Apa motif orang-orang Sanxingdui menghancurkan seluruh kebudayaan mereka dan menguburnya dalam 2 lubang? Mengapa mereka tidak memunculkan budaya mereka di Jinsha?"

Sunday, September 20, 2020

Arkeolog Terkejut Banyak Temuan Situs Bersejarah di Natuna

Para arkeolog terkejut dengan temuan benda bersejarah di pulau kecil tersebut. Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Sonny Chr. Wibisono menyebut setidaknya ada empat situs masa sejarah di Kabupaten Natuna.

Ia dan tim mulai menyusuri Kabupaten Natuna pada 2010 silam. Tepatnya di Pulau Bungur Besar dan termasuk penelitian pertama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di masa prasejarah Natuna.

"Kami mulai penelitian di sana tahun 2010, memang penemuannya mengagetkan buat kita karena kalau kita lihat posisi Natuna yang begitu kecil. Kita menemukan begitu banyak situs," tutur Sonny.

Lihat juga:Sejarah Warga Natuna, Dagang Kayu Gaharu Hingga Jazirah Arab

Berikut sejumlah hasil temuan arkeologi yang dihimpun para peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

1. Batu Sindu: Jejak Awal Hunian Penduduk Natuna

Bukti hunian penduduk Natuna terdiri dari tujuh beliung di permukaan tanah, di antara blok-blok granit, kompleks ceruk Batu Sindu yang berada di Kelurahan Ranai, Pulau Bunguran.

Beliung itu terbuat dari batu lempung yang keras dan berbutir halus, beliung-beliung ditemukan berserakan dan bercampur dengan pecahan-pecahan tembikar.

"Beberapa di antaranya masih utuh, hanya sebagian dari beliung ini yang rampung dibuat karena sisanya masih dalam proses atau yang sering disebut calon beliung," kata Sonny.

Pecahan tembikar dari Situs Ceruk Batu Sindu terdiri dari tembikar slip merah polos. Di situs ini juga ditemukan jenis tembikar dengan hiasan yang disebut tatap bercap atau berukir yang banyak ditemukan di situs-situs di Asia Tenggara Daratan bahkan Malaysia.

Tak hanya tembikar tatap bercap, peneliti juga menemukan corak tembikar berhias geometris pola tumpal, sebuah corak yang populer di antara kawasan Sahuyn Vietnam dan Kalanay Filipina.

"Penemuan persamaan ini mengindikasikan bahwa Natuna masuk dalam kawasan interkasi antar pulau di perairan Laut Cina Selatan," ucap Sonny.

2. Benggong

Benggong merupakan wadah kayu berbentuk perahu lesung ditemukan di Desa Setapang, sebelah utara Kota Ranai. Peneliti menduga situs ini sebagai peti kubur.

Pemacokan di sekitar lokasi ekskavasi menghasilkan sebuah keramuk utuh, berupa mangkuk dari China saat Dinasti Yuan abad ke-13 dan 14.

"Tampaknya mangkuk itu bagian dari bekal kubur dari peti kubur yang tidak lagi tersisa rangka atau tulang belulang di dalamnya," tutur Sonny.

3. Penemuan Kerangka Manusia di Desa Sepempang dan Situs Tanjung

Di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna para arkeolog menemukan lahan wakaf di kebun kelapa dan semak belukar. Di permukaan lahan, banyak ditemukan pecahan keramik, tembikar, dan tulang belulang.

Melalui ekskavasi arkeologis yang dilakukan, ditemukan kerangka manusia pada kedalaman 40 hingga 60 Centimeter. Posisi kerangka membujur miring, kepala menghadap barat daya, orientasi kubur kepala di arah barat laut dan kaki di sebelah tenggara.

"Kedua belah tangan lurus di samping, mungkin orientasi arah hadap ke daratan dapat dipastikan rangka ini bukan Muslim," kata Sonny.

Lihat juga:Pemerintah Sebut Butuh Banyak Kapal untuk Awasi Perairan

Selain di Desa Sepempang, peneliti juga menemukan kerangka manusia di Situs Tanjung tepatnya di dalam ekskavasi titik S2-T7, kedalaman sekitar 70 Centimeter.

"Tengkorak kepala relatif utuh, bagian hidung dan gigi tampak mengalami kerusakan, beberapa gigi terlepas dari rahangnya. Pada bagian pergelangan tangan kiri terdapat gelang dari runggu berjumlah 3 buah utuh, diameter yaitu 5,7 cm dan 5,8 cm," jelas Sonny.

Kekhasan dari kubur ini kata Sonny ialah adanya barang didekat kerangkanya. Barang penyerta kubur itu terdiri dari senjata logam yang terbuat dari besi.

Kendati telah berkarat, namun masih dapat dikenali. Benda kubur ini terdiri dari pisau, keris, dan tombak.

4. Batu Bayan

Batu Bayan merupakan potongan keranda kayu yang ditemukan di Pulau Bunguran, tidak begitu jauh dari Kota Ranai sekitar 12 kilometer.


Satu di antara keranda kayu Batu Bayan ini ditemukan hampir dalam keadaan utuh yang terdiri dari dua bagian. Bagian bawah menyerupai lesung dan atas adalah tutupnya.

"Keranda kayu besar ini berukuran panjang 210 cm dan lebar tengah 50 cm, terdapat 4 buah kaki di bagian bawah berbentuk persegi berukuran 11 cm x 6 cm x 3 cm," terang Sonny.

Lihat juga:TNI: China Punya Pulau Buatan di Laut China Selatan

"Wadah kubur ini dilengkapi dengan tutupnya yang berlubang, mungkin untuk mengikatkan pasak atau tali, lubang antara 2 sampai 3 cm. Ukuran tutup yang tersisa panjang 130 cm, lebar 40 cm dan tebal 19 cm," lanjut dia.

Kabupaten Natuna memiliki luas wilayah 224.684, 59 kilometer persegi. Ada 7 pulau terluar di wilayah ini yaitu Pulau Kepala, Subi Kecil, Senoa, Sekatung, Sebetul, Semiun, dan Tokong Boro.

Menurut Ahli Antropologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Djoko Marihandoro, Kabupaten Natuna terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 53 Tahun 1999 dari hasil pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau, Indonesia.

"Dalam perkembangannya, Kabupaten Natuna dimekarkan menjadi satu kabupaten lagi, yaitu Kabupaten Anambas di bawah Provinsi Kepri tahun 2008," kata Djoko saat acara Ada Apa Dengan Natuna di Pusat Arkeologi Nasional, Jakarta, Kamis (30/1).

Catatan redaksi: Redaksi mengubah judul artikel ini dari sebelumnya 'Arkeolog Terkejut Banyak Temuan Situs Prasejarah di Natuna', pada Minggu (2/2), setelah mendapatkan klarifikasi.

Tuesday, September 15, 2020

Mumi Mirip Lukisan Wajah

https: img.okezone.com content 2016 05 31 18 1402552 mumi-mirip-lukisan-wajah-van-gogh-terkubur-di-gereja-spanyol-obwopePW4o.jpg

Di antara 30 mumi anak-anak dan biksu, ada sesosok mumi berjenggot pirang yang khas sekali, menyerupai lukisan wajah Van Gogh yang terkenal. Ini ditemukan terkubur di bawah Gereja Perawan Maria di Desa Quinto, dekat Zaragoza, Spanyol.

Mumi mirip pelukis kenamaan Belanda itu diketahui meninggal dalam usia 40-an dan dimakamkan dengan tata cara Fransiskan (salah satu ordo agama Kristen). Namun, mengenai identitas serta penyebab pasti kematian sosok mumi yang ditemukan dalam kondisi berkerudung dan masih dapat dikenali ini belum diketahui.

“Kami menunggu hasil penelitian histologi yang dilakukan para ahli internasional dari Italia, Korea, Nebraska, dan Brasil,” ujar Mercedes Gonzales, Direktur Instituto de Estudios Cientificos en Momias di Madrid, sebagaimana yang dilansir Discovery News, Selasa (31/5/2016).

http://180.215.200.69/

Penemuan ini, menurut para penggali makam, terbilang sangat mengejutkan, karena hampir ke-30 jasad manusia itu terpelihara dengan sangat baik. Mereka diyakini termumikan dengan baik berkat kondisi tanah yang kering dan jauh dari serangga. Beberapa dari mereka bahkan masih memiliki rambut dan janggut utuh.

“Proyek ini masih dalam proses. Kami memulai (restorasi gereja sejak 2011) dengan lima mumi, dua di antaranya orang dewasa dan tiga lainnya anak-anak,” kata Gonzales.

Setelah penggalian lebih menyeluruh selama lima tahun terakhir, mereka sudah menemukan 11 mumi orang dewasa dan 24 mumi anak-anak. Diduga mereka meninggal karena penyakit kolera yang tengah mewabah antara abad 18 dan 19. Semuanya disimpan dalam sebuah kapel dan dibiarkan tetap di sana, terbungkus kain. Menunggu untuk diperiksa lebih lanjut.

http://180.215.200.69/

“Semuanya masih kami pelajari. Seiring berjalannya waktu, kami berharap bisa memberikan nama bagi (minimal) mumi Van Gogh dan mengetahui kehidupannya,” sambung peneliti yang berjanji akan memberi informasi detail pada Kongres Studi Mumi Sedunia yang akan digelar di Lima, Peru, pada Agustus.